Wednesday, November 05, 2014

Komunikasi yang Mengena

Simon Sinek bilang bahwa komunikasi yang mengena selalu dimulai dengan yang strategy inside-out. Maksudnya? semua dimulai dari ‘Why’, ‘How’, dan ‘What'

Contohnya yang dilakukan oleh Apple
Why: Everything we do we believe in challenging in status quo. We believe in thinking differently.
How: The way we challenge our status quo is making our product is beautifully designed, simple to use and user friendly.
What: Hi, we just happen to make a great computer. Want to buy one? 

Dan pesaingnya selalu memulai dari lingkar terluar, yaitu ‘what’.

Thursday, September 11, 2014

Shaken not stirred, please.

Dari kecil bahkan sampai sekarang, saya selalu dibuat kagum dengan tukang gulali. Dari lelehan gula cair lengket panas, jemarinya menari, memilin, mencampur adonan panas warna warni, dan keajaiban ditunjukkan. Saya menikmati legitnya gulali –yang rasanya, yaaah sebegitu saja- dengan bentuk sikat gigi, burung perkutut, kapal terbang, atau bunga. Terhibur mata dan lidah. Saya dihibur dengan RASA.

Sebelum menikmati teppanyaki di restoran favorit, saya disuguhi pertunjukkan visual yang semakin membuat terbit rasa lapar. Wajan datar, daging, sayur, dan tangan trampil sang koki menari di depan saya. Hati senang, lapar datang kemudian pergi. Saya di hibur dengan RASA.

Dan sekarang, bartender.

Imajinya mudah ditampilkan. Tapi mengupas sisik meliknya kok ya ternyata nggak gampang.
Mungkin, saya seperti siapapun yang pergi ke tempat-tempat di mana bartender ada dan di perlukan, memperhatikan mereka ini selintas. Kemudian asyik hahaha hihihi sana sini dengan karib. Saya tidak terlalu peduli kalau minuman yang disajikan rasanya seperti obat batuk cair. Apa peduli saya, toh minuman ini cuma sebagai pelicin sosialiasi. Bartender ada karena, well, siapa lagi yang tugasnya menyajikan minuman untuk kita? Sudah. Berhenti sampai di situ saja.

Bartender yang mumpuni punya karakter, pengetahuan, akurasi racikan, kecepatan, layanan dan kreatifitas.

Anggaplah sang bartender adalah petarung, meja panjang bar ladang pertempuran. Padanya, Ia harus melengkapi diri dengan skill meramu paduan mana yang cocok dengan apa. Bagaimana Ia harus paham sepenuhnya dulu tentang karakter setiap “distilled beverage” seperti gin, vodka, whiskey, tequila atau rum sebelum dikawinkan dengan bahan lain dan tersaji di hadapan kita menjadi Cosmopolitan yang digilai Carrie Bradshaw di “Sex and the City”, Bloody Aztec dengan paduan vodka dan creme de cacao yang tepat, Appletini yang memberikan sensasi antara perkawinan vodka dan apple liquer yang diikat dengan cointreau, atau betapa mantapnya campuran gin dan lemon juice dalam John Collins.

Paduan setiap minuman harus tepat. Resep boleh sama, tapi “taste” setiap bartender lah yang akhirnya menentukan.

Ia menjadi unsur pendukung utama dalam menciptakan nuansa yang menghibur. Tak sekedar menyajikan akrobat botol dan gelas pencampur, kreatifitas penyajian bermain pula. Mampu menciptakan pembicaraan yang menyenangkan saat tamu datang sendirian, membuat yang datang merasa mereka ada di tempat yang tepat, ‘feels connected’, dan di ujungnya memutuskan untuk datang kembali.

Inilah esensi bartender sesungguhnya. Esensi yang secara sederhana analoginya seperti saya terkagum-kagum dengan koki teppanyaki dan tukang gulali.

Saat bertemu dengan bartender seperti ini. Saya jamin, menjadi mabuk, jauh dari pikiran. Sensasi untuk menikmati seni,rasa, selera, teknik penyajian kelas inggil dalam segelas cocktails serta mungkin –kalau beruntung- pembicaraan yang menyenangkan, menjadi agenda utama.

Sungguh sayang, dengan begitu banyak tempat hiburan dengan bar minuman di dalamnya, dengan perkembangan industri ‘horeca’ (Hotel, restaurant and cafe) yang sedemikian pesat. Bartender dengan kriteria seperti itu jarang ditemui. Jangan salahkan, kalau kemudian bartender kemudian dilihat sambil lalu. Yang penting, ada yang menyajikan minuman. Sudah, itu saja.

Kompetensi harus dibangun, baru apreasiasi akan muncul.


Jadi, iyakan saja pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”. Kenali dulu, dan kemudian Anda bisa yakin berkata, “Shaken, not stirred please!”

Sunday, August 24, 2014

Kecewa

Seringkali yang bikin kita kecewa itu bukan orang lain. Tapi diri kita sendiri dengan segala ekspektasi yang kita buat.

Sent from my Sony Xperia™ smartphone

Friday, August 22, 2014

Inspirasi Hidup

Inspirasi hidup memang bisa datang kapan saja. Dari siapa saja.

Ini office boy kantor karibku, Arifaldi Dasril.

Di saat yang lain mungkin selepas kerja segera bersenang-senang, Ia memilih belajar Adobe Photoshop menemani mereka yang sedang lembur. Tutorial di youtube, tentunya.

"Emang ngerti bahasa inggrisnya?"

"Enggak, tapi ikutin aja lah... Klik klik... Nanti juga ngerti maksudnya mas. Nanti kalau tabungan sudah cukup, mau les bahasa inggris"

Tahu cerita macam begini tuh pencerahan betul.

Semoga Ia rejekinya ditambahkan.

Semoga tabungannya segera dicukupkan buat les bahasa inggris.

Aku jadi ingat Badrun, office boy kantor lama. Setiap hari selalu tersenyum nir mengeluh.

Orang kaya kan katanya orang yang selalu pandai bersyukur dan selalu merasa cukup.

Badrun tuh ya begitu itu.

Hingga sebelum aku resign, Ia diangkat jadi staf administrasi.

Aku berdoa buat si dul ini.

Thursday, August 07, 2014

Katanya Setia. Katanya Cinta

Cinta itu kan kayak kehidupan.
Ada dinamikanya. Dalam dinamika, mungkin ada yang berubah. Cara memandang hidup, skala prioritas, visi, bisa jadi satu dan pihak lain mulai berbeda.
Kalau sudah begitu, kadar setia diukur dari mana? Keinginan yang satu menunggu yang lain untuk menyamakan irama dinamikanya atau diukur dari sejauh mana kita bisa jujur sama diri sendiri bahwa mungkin yang satu harus melepas yang lain supaya bisa berlari dengan dinamikanya sendiri dan menjadi pribadi yang seutuhnya?

I wonder ...

-elus2 jenggot.

Thursday, April 03, 2014

Think different

Baca copy ad apple 'think different'. Keren!

 

Begini ditulis:

They invent. They imagine. They heal. They explore. They create. They inspire. They push the human race forward.

 

Maybe they have to be crazy. How else can you stare at an empty canvas and see a work of art? Or sit in a silence and hear a song that is never been written? Or gaze at a red planet and see a laboratory on wheels?

 

We make tools for these kinds of people. While some see them as the crazy ones, wee see genius.

 

Because the people who are crazy enough to think they can change the world, are the ones who do.

 

 

Monday, January 13, 2014

Jiro Dreams of Sushi

 

Jiro Dreams of Sushi

 

Kesindir.

 

Karena kerjaan yang ada hubungannya dengan masak-masak, akhirnya beberapa hari kemarin sempat ngobrol sama juru masak hebat, Adith. 

 

Dia rekomendasiin film ini buat ditonton. 

 

Jiro. Dianggap sebagai asset bangsa. 20 buah sushi buatannya seperti alunan orkestra saat disajikan berurutan. 

 

Restorannya kecil di ujung stasiun kereta tapi dianggap sebagai restoran sushi termahal yang pernah ada. 

 

Seperti kita menghargai batik sebagai hasil budaya inggil, demikian juga Jiro terhadap sushi.

 

Dibutuhkan 10 tahun magang di restorannya utk bisa memiliki keahlian membuat sushi kelas wahid. Latihannya dimulai dari menyajikan handuk cuci tangan dengan hangat yang tepat, memotong ikan, hingga naik kelas membuat tamagoyaki atau sushi telur dadar. Salah satu anak magangnya baru sukses membuat tamagoyaki setelah 300 kali percobaan.

 

Kemarin kan males banget mau kerja. Bikin proposal aja nggak kepengen padahal hari presentasinya udah mepet. 

 

Di awal film ini, Jiro bilang:

 

"Once you decide on your occupation, you must immerse yourself in your work. You have to fall in love with your work. Never complain about your job. You must dedicate your life to mastering your skill. That is the secret of success, and that is the key to being regarded hoborably"

 

Ok, semangat!

 

Thank you adith utk referensinya filmnya. Bagus!

 

 

Sent from my LG Mobile

 

Wednesday, January 08, 2014

Stop Dreaming Start Living


Aku menyebutnya "Ally McBeal" momen.

Itu lho, momen dimana pada satu peristiwa, alih-alih  memperhatikan apa yg terjadi di depanmu, pikiranmu justru memainkan skenario sebaliknya karena alam bawah sadarmu berteriak mengatakan, "inilah yang seharusnya terjadi"

"Agus kenapa bengong?"

"Hhhhh, kenapa? Oh iya, sampai dimana tadi?"

Kemudian kita kembali ke kenyataan yang sesungguhnya tak pernah kita pilih untuk dijalani tapi mau nggak mau, ya harus mau ;)

Aku sering mengalami itu. Walter Mitty ternyata juga.

Satu kali dalam hidup, Aku yakin kita pernah punya gambaran sempurna akan kemana hidup ini dituju. Gambaran yang dibuat dengan sepenuh hati berdasarkan semua hal yang kita suka untuk dijalani dalam hidup. 

Aku juga. Walter Mitty juga. 

Kemudian pelan-pelan, perjalanan hidup membuat kita jadi sinis. 

Lupakan mimpi. Karena realita siap mengigitmu setiap saat. 

Kenyataan hidup seperti anjing liar yang kalau kamu lengah, gigitan sakit luar biasa. 

Walter Mitty, melepaskan pelan-pelan mimpinya saat Ayahnya pergi ke surga. 

Walter Mitty memilih duduk di ujung gudang negative film, menua, bahkan takut untuk memulai jatuh cinta lagi. 

Pada konteks ini aku merasakan apa yang dirasakan Walter Mitty. Mungkin kamu juga. 

Tapi Walter Mitty beruntung. 

Kejutan hidup untuk Walter Mitty diberikan lewat perantara bernama Sean O Connel. 



Hidupnya dijungkir balik. 

Abu-abu jadi berwarna. 

Dari duduk di ujung gudang sampai pergi ke Greenland, berkelahi dengan ikan hiu, mengarungi samudra artik, naik sepeda di Islandia, sampai bertemu dengan snow leopard di ujung dunia, bahkan mendapatkan wanita impiannya. 

Hidup memang penuh kejutan. Dan, ada pada satu momen di film ini dimana  Aku sungguh berharap Sean O Connelku segera datang. 

Perantara yang kemudian menjungkir balikan hidup dan mengubahnya jadi sebuah kejutan manis. 

Momen yang mendorong kita untuk berteriak lantang "Stop dreaming start living!"

Momen yang membuat kita memaknai kutipan yang beberapa kali muncul di film ini: 

"To see things thousands of miles away, things hidden behind walls and within rooms, things dangerous to come to, that is the purpose of life" 

Have you found your Sean O Connel? :)


Sunday, November 17, 2013

Kenapa ya kenapa.

Mendengar cerita teman kantor yang frustasi ngajarin anaknya soal matematika kelas 3 SD. 

Aku jadi ingat pernah nulis di buku harian 

((BUKU HARIAN))

" Kenapa sih kita harus belajar matematika? Rhoma Irama emang harus lulus pelajaran matematika supaya bisa nyanyi bagus? Aku benci matematika" 

Pulang ke Semarang aku pengen bongkar gudang ah. Sepertinya Ibuku masih menyimpan buku-buku nista itu :)) aku mau baca ulang 

..........

Btw, kenapa harus Rhoma Irama sih .... (menghela nafas)

Tuesday, November 12, 2013

Yang Detil

Dulu diajarinnya kalo berdoa minta, harus detil. 

"Minta BMX warna merah, pedalnya item semua, ada belang-belang item di setang" 

Dapet sih. Walaupun dapetnya setelah trend bmx lewat dan kepengennya udah ganti jadi sepeda Federal. 

Tapi yang penting kan dikasih. 

Sekarang minta. Detil juga kok. 

Nggak minta cepet. Yang penting dikasih. 

Tapi kalo dikasih cepet, Aku seneng banget pastinya. 

Amin.

Monday, November 11, 2013

Inget Bapak

Tiba-tiba inget hal yang pernah diajarin Bapak sedari kecil:

"Yang bisa diandalkan untuk menolong dirimu, ya kamu sendiri! Dan ingat, nggak ada pertolongan yang gratis" 

Suddenly, i feel so lonely..... and sad.

Thursday, November 07, 2013

Bego

Jadi inget.

Curhat:
"Kantor dan kerjaan gue menyebalkan. Gue udah nggak ada semangat lagi tiap bangun pagi mesti ke kantor"

Bukan kali pertama kudengar keluh ini.

Ditanya:
"Udah ngapain aja biar nggak begitu?"
"Udah kirim2 cv?"
"Udah nanya2 kerjaan sama temen2?"
"Coba liat cv lo!"
"Kok mbikin cv kayak gini?"

Jawabannya plintat plintut. Anak ini nggak serius untuk menolong dirinya sendiri.

"Udah curhatnya? Gue pernah mengeluh kayak gitu. Boong kalo gue bilang nggak pernah. I feel you. Tapi, Menurut gue, sekarang daripada lo berusaha nyari kerjaan baru, mendingan lo belajar bersyukur dulu"

"Bersyukur lo tiap tgl 25 ada uang buat bayar kost, ke club sekali seminggu, makan enak, baju bagus, naik taksi dan beli starbucks bisa tiap hari"

"Bersyukur bahwa dari kerjaan lo yg lo bilang menyebalkan itu, lo bisa ngopi2 di tempat ini buat curhat. Dan, setelah itu mungkin keadaan bakal pelan2 jadi lebih baik buat lo"

Dibalas muka sebel.

Cipika cipiki.

Yuk dag nek sampe ketemu lagi.

(Maaf ya, justru karena temen makanya dilarang ngomong pereeeuz)

Shared from Google Keep

Monday, September 16, 2013

Tentang Presentasi

Delivering a presentation well (the acting bit) is a useful skill, and one that can be learnt surprisingly easily, but what really matters is the playwright's skill; the ability to write a great presentation in the first place

- Stephen Bayley & Roger Mavity

Tuesday, August 20, 2013

Seandainya

Seandainya aku menjadi orangtua, tega kah aku mengutuk anakku sendiri?

Rasanya aku tetap akan berdoa dan bersedih.

Sedih. Bukan amarah.

Tuesday, January 15, 2013

Harta

Hujan. Dingin. Waktunya tepat untuk nyampah :)))

Well, ini gara2 aku tiba-tiba ingat kamu Barrie. Dan juga inget cerita2 kita tentang menjadi bahagia.

Katanya bahagia itu nggak dicari. Tapi terbuat.

Katanya bahagia itu nggak ada hubungannya sama materi. Tapi buktinya, kita kadang2 nyeletuk:

"Seneng banget ya dia bisa jalan-jalan ke luar negeri sesering yg disuka... Gajinya sama dgn kita kan?"

"Udah mulai nyicil rumah dia..."

Yah, begitulah ya Bar ... :)

Tapi walaupun begitu, di ujungnya kita selalu sadar bahwa:

Selama ini, 

Kitalah penjuru 

The lighthouse of our family

Setiap senyum, setiap kesukaan yg terjadi dlm hidup mereka, kita punya porsi campur tangan yang besar. Kita yang menjadi agen terbesar mengapa bahagia itu ada. 

Pengejawantahan harta kita? Ya mereka itu. 

Katanya bahagia itu jaraknya cuma 5 jari dari pandangan mata. Oh, makanya kadang suka blur hampir tak terlihat :))) 

Oh, makanya butuh waktu sejenak untuk ambil jarak, ada ruang sela dan bilang, 

"Oh iya, tuh itu tuh bahagia yang sudah saya buat..."

Itulah harta kita.

Eh Bar, Barrie.... Aku ngomong apa sih ini Bar? :))) 

Yuk, ketemu aja.... Ngobrol2

Tapi karaoke dulu ya sebelumnya :)))


Sent from my iPhone

Wednesday, December 26, 2012

Amira dan Raka




Lembaran surat ini lama kupandangi. Bertahun-tahun, kertas yang ujungnya telah sedikit menguning ada di dalam kotak. Kotak kayu berukir, pemberianmu puluhan tahun lalu saat kita mengucapkan kata yang tak pernah kita inginkan. Kata perpisahan.
Sebenarnya aneh sekali menamakan  lembaran kertas ini, surat. Karena hanya dua kata tertulis di atasnya. 
Hi Amira. 
Itu saja.
Kemudian, lama tak pernah aku berhasil menguatkan hati untuk melanjutkan menulis kata di atasnya, tertuju untukmu.
Pada saat kali pertama kuniatkan menulis surat ini untukmu, aku bingung.
Aku bingung untuk menemukan kata yang mewakili segala rasa untukmu. Setiap kali kata muncul di kepala, sekejap kemudian secara sadar dihilangkan niatnya untuk tertulis.
Rasa di hati dan kepalaku menolak untuk diwakili. Terlalu kecil wadah dari isi. Nampaknya.
Tapi sepertinya inilah saat yang tepat untuk melanjutkan yang lama tertunda. 
Menulis surat untukmu.
…………..
Hi Amira.
Surat ini kutulis sambil membayangkan dua anak kecil yang berlari sekencang mungkin dari sekolah sampai ujung sungai sambi yang membelah belakang kampung kita tinggal.
Aku akan selalu ingat bagaimana kita berteriak macam hilang akal. Aku lupa kita berteriak untuk apa waktu itu. Mungkin berteriak tanpa alasan. Semata karena nampaknya itulah cara kita menularkan rasa suka pada semesta.
Betapa aku senang mendengar engkau berteriak-teriak di belakangku.
Semangatmu seperti kuman.
Menular terbang cepat di udara.
Kemudian kita melompat terjun dari batang pohon kelapa yang miring menjorok ke tengah sungai. 
Dan kita pulang dengan hati senang.
Kuikuti langkahmu dari belakang. Kamu seperti lelaki yang dihukum memakai rok pergi ke sekolah. 
“Raka, besok aku malas sekolah. Aku sebal sama Bu Sri. Kita bolos yuk!”
“Aku suka Bu Sri”
“Pokoknya kita bolos! Dan kamu harus turut kataku!”
Hahahaha. Betapa aku sebal. Tapi aku selalu memujamu. 
Dan, kita menghabiskan waktu pergi ke pasar Anyar. Berkeliaran macam anak buangan. 
“Amira, kita ngapain sih ke pasar?”
“Liat-liat aja. Kenapa sih kamu banyak nanya? Udah kamu diam aja. Ikut aja”
Dan aku menemani berkeliling pasar. 
Tukang gulali di sebelah kedai soto kuah kuning. Tukang jual perahu seng yang bergerak saat terkena panas kapas yang terbakar minyak kelapa dan mengeluarkan bunyi yang keras bukan kepalang. Serta tukang jual ikan koki dibungkus plastik gembung kecil.
Capek. Tapi tak mengeluh. Kamu  sahabat paling menyenangkan.
Kamu seperti George. Perempuan tomboy karakter favorit kita dalam buku Lima Sekawan.
Berdua, kita sepertinya anak yang paling hebat di dunia. 
Paling badung.
Paling bahagia.
Atau jangan-jangan kita adalah dua anak kecil yang paling gampang dibuat senang? 
Pengalaman kita menurutku kelas dunia! 
Terhanyut berpegangan di gedebok pisang saat sungai meluap airnya.
Diseruduk kerbau karena iseng membuatnya bersin dengan alang-alang kering. 
Dikeroyok lebah karena tak sengaja membuat rumah mereka jatuh dari pohon.
Nyawa kita hanya berjarak serambut dari maut.
Kita keren banget lah!
“Jadi, kita temenan sampai tua ya!
“Iya, Amira…” 
Dan jalan hidup sepertinya bersekutu dengan kita. 
SD bersama.
SMP bersama.
SMA bersama. 
Kamu masih ingat, betapa kamu yang paling bersemangat saat surat cinta pertamaku dibalas Alika jaman kita SMP? 
Betapa kamu yang paling berisik sementara aku dan Alika diam tak mengerti harus memulai saat kencan cinta monyet pertamaku. Dan kamu mendesak mau ikut. 
“Kalah sama kuburan suasana kencanmu kalo aku nggak ikut!” 
“Iya deh kamu ikut!” 
Kencan yang aneh. 
Kamu masih ingat, tangisan pertamamu karena putus cinta gara-gara si Ali? 
Aku masih heran darimana nggantengnya tuh orang. Jelek, kurus, item, bau. Ini bukan karena aku cemburu ya. Murni pengamatan obyektif. 
Aku ada di momen-momen terbaikmu. 
Kamu ada di momen-momen terberatku. 
Aku menggenggam tanganmu di momen-momen kamu butuh dikuatkan. 
Kamu jadi yang pertama kali ikut tersenyum di momen-momen terbaikku. 
Begitu seterusnya. 
Sampai kita kuliah. 
Sampai kita diterima di tempat kerja yang sama. Tapi beda departemen. 
Sampai saat kamu jatuh cinta dengan Ryan. 
Kamu demikian cantik dengan Ryan ada di sampingmu. 
Ia berhasil membuatmu terlihat sempurna. 
Di mataku. 
Kotak ini kauberi saat ulang tahunku ke dua puluh tujuh. 
“Nih, lo kan doyan tuh nyimpen-nyimpen sampah segala macem. Tiket nonton lah. Bon restoran lah. bahkan kotak korek api hotel. Ngerti banget kan gue?” 
Yang tak pernah kamu tau, Aku menyimpan tiket nonton yang kubeli dengan gaji pertamaku untukmu. 
Aku menyimpan bon restoran kali pertama kita jalan-jalan ke Madrid seperti mimpi kecil kita dulu. 
Aku menyimpan kotak korek api hotel kecil di Nepal tempat kita merayakan persahabatan puluhan tahun. 
Aku menyimpan rasa kita. 
Sampai pada detil terkecilnya. 
Dan kamu menikah. 
Dan aku menyimpan dalam-dalam bahwa ternyata aku tak mau membagimu untuk yang lain. 
Aku mau menjadikanmu sahabat dalam hidup. 
Aku mau menjadikanmu istri dari anak-anakku. 
Ternyata begini ya rasanya jadi lelaki konyol di film-film yang sering kita cela-cela itu. 
Lelaki yang sadar terlambat. 
Ternyata, jadi lelaki konyol itu menyesakkan. 
Aku seperti menulis buku tentang hidupku sendiri dan kuasa untuk menentukan akhir cerita yang kumau, direnggut. 
Ha ha … tulisan surat ini sebenarnya hanyalah sebuah pengakuan lelaki tertolol di dunia. 
Umur dua puluh tujuh tahun kamu beri kotak ini. 
Dua puluh tahun setelahnya surat ini panjang lebar ditulis. 
Amira, engkau akan mengingatku sebagai sahabat sejati. 
Aku akan mengingatmu lebih dari itu. 
Engkau mungkin tak akan pernah membaca surat ini. 
Tapi seperti aku yakin saat semesta bersekutu membuat kita selalu bersama. 
Semoga rasa ini bisa tersampaikan dengan paripurna. 
Sampai bertemu kembali. Amira. 
Tertanda
-Raka- 
……………………………………………………….
Nisan berpualam putih menghadap lembah dieng. 
Kotak berukir di atasnya. 

Monday, December 17, 2012

Pelajaran Tentang Cinta ...


Pelajaran cinta #1
"Aku nggak ngerti jalan pikiran Mama..."

"Sekarang kau tak akan paham. Nanti kau akan mengerti"

Perempuan. Ia menakutkan dalam keagungannya.


Pelajaran cinta #2
"Benci nggak kamu sama Bapak?"

"Enggak"

"Kenapa? Bapak kan banyak salah sama kamu..."

"Karena ternyata Bapak bukan nabi. Aku ndak perlu takut sama Bapak. Bapak ndak bisa pukul aku lagi. Bapak cuma manusia. Bisa salah, kayak aku. Bisa taku, kayak aku. Jadi aku ndak benci Bapak..... Karena Bapak bukan Nabi"


Pelajaran cinta #3
"Bapak keras ya sama kamu? ..."

"Iya..."

"Tapi Bapak sayang sekali sama kamu..."

"Ndak apa. Ditampar sesekali bikin aku sadar kalau aku masih manusia. Bapak seperti jam weker. Menyebalkan. Tapi bikin aku ndak telat sekolah. I love you Bapak"


Pelajaran cinta #4
"Memberi. Itu saja..."

"Gimana mau memberi kalau tak memiliki, Ma?"

"Memberi. Itu saja ..."

"Mama, aku bukan seperti lagu berjudul Kasih Ibu... Hanya memberi tak harap kembali"

-Setelah hidup 25 tahun di dunia, baru aku paham maknanya


Pelajaran cinta #5 
"Kamu banci ya?..."

"Kalo aku banci, Bapak pukul aku?"

"Enggak. Kamu yang pukul aku. Kencang..."

"Satu sama pak ..."

"Impas..."

"Jadi rela?..."

"Impas..."

-And for that Bapak, I love you


Pelajaran cinta #6 
"Janji nggak jadi tua dan kesepian ya.."

"Janji..."

"Janji nggak bikin Mama sama Bapak kuatir ya ..."

"Janji"

-Mereka memintaku untuk selalu berusaha bahagia. And that's exactly what I am gonna do for the rest of my life ...



Friday, September 07, 2012

Pertanyaan dan Jawaban

Hari ini gue belajar bahwa banyak pertanyaan tentang hidup yang ternyata nggak perlu jauh-jauh dan pusing mencari jawabannya. 

Kita bisa temukan di lingkar pertemanan paling dalam. Dan yang paling penting, kita bisa menemukannya di sebuah tempat bernama: rumah. 

Sent from my iPhone

Monday, July 30, 2012

Diabaikan ...



Setiap kedai kopi ini buka. 

Aku selalu tepat waktu menyambangi. 

Aroma kopi, suara barista meneriakkan pesanan, bunyi desisan mesin uap pembuat buih susu, selalu membuatku tenang dan menerbitkan senyum kali pertama di pagi hari. 

Aku senang di sini. 

Hangat. 

Dari pojok kedai kopi ini, aku bisa leluasa memandangi orang datang dan pergi. 

Melihat air muka mereka yang selalu membawa banyak pesan. 

Lelaki yang temu janji dengan selingkuhannya. 

Perempuan yang curhat masalah kantor dengan sahabatnya. 

Ibu yang menyuapi si kecil dengan kue coklat yang menjadi andalan kedai kopi ini. 

Setiap mencuri dengar pembicaraan di sekitar. 

Setiap mencuri lihat momen-momen di sekitar.

Aku tertular rasa. 

Aku selalu punya keinginan untuk menyapa mereka. 

Mengajak bicara. 

Bicara apa saja. 

Tak ada hal remeh untukku. 

Tapi nampaknya mereka menganggapku sambil lalu. 

Aku cuma pelanggan tetap kedai kopi ini yang selalu duduk di pojoknya. 

Sudahlah kunikmati saja. 

Dan kutunggu sampai mereka menyapa. 

Pada satu saat nanti ….. 

…………………………………….......

"Duduk di pojok itu yuk … kosong tuh!"

"Nggak ah… hawanya nggak enak bikin merinding. Kamu nggak tau kemarin ada satu pelanggan kedai kopi ini mati mendadak sakit jantung di pojok itu?" 

"Ooooh …." 

"Udah ah jangan ngeliat kesitu … serem"


Sunday, May 13, 2012

Selamat Hari Ibu....




Rencananya sih mau menulis tentang Hari Ibu.

Katanya sih hari ini.

Walaupun secara pribadi aku ndak menganggap penting, tapi ya sudahlah.. kadang kita perlu penanda untuk lebih menghargai sebuah momen atau mungkin persona yang seringkali ketulusan dan cintanya suka kita anggap sebagai sebuah keniscayaan alias boso enggrisnya 'taken for granted' … wuih, kalimat panjang ini kok kesannya mbois dan SOK intelek ya hahahaha.. nggak aku banget.

Tadinya juga, tulisan tentang Ibu ini mau kubuat super melankolis dengan pilihan kata puitis yang kalo misalnya aku membacanya kembali, aku bisa menangis haru biru semacam sehabis nonton film drama seri Korea.

Tapi niatan itu batal, gara-gara semalam aku berkumpul dengan Aryan, Daniel, Putra, dan Adit bicara soal 'bullying' …

Maaf sok keminggris ngomong 'bullying'. Karena sejujurnya, aku belum menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk kata yang satu ini. Kalo ada yang tau? sini mau kok diberi tahu :) .. alaaah apaan sih gus hehehehehe

Aha! ilham tiba!

Aku mau menulis bagaimana Ibuku melindungi kami anak-anaknya dari dampak psikologis perlakuan bernama 'bullying' ini.

Dari kecil, aku ini target potensial.

Kurus, item, kurang gizi, terlihat rapuh.

Dari kecil, aku sering sering dicemooh dan diteriaki, "Agus banci… Agus banci!"

Karena bicara terlalu 'lemah lembut' untuk kanak seusiaku.

Jarang keluar kelas saat istirahat.

Terlalu asyik dengan duniaku sendiri dengan buku yang kubaca.

Waktu itu, banyak teman sekelas yang tak tahu kalau selepas sekolah, aku juga sangat menikmati mandi di kali dan terjun salto dari pohon kelapa yang tumbuh miring di pinggir kali dengan Aan adikku.

Atau main layangan di sawah lepas panen yang mengering kemudian berubah menjadi tanah lapang bersama adikku.

Bahkan naik kerbau di sawah.

Sedemikian seringnya aku dilecehkan dengan panggilan "Agus banci" sampai akhirnya aku ndak pernah mau datang ke acara reunian SD.

Well, pernah sih sekali sempat datang.

Tapi tak menyenangkan.

"Hi Andi … ini Agus .. masih inget?"

"Agus? Agus yang mana ya? Oooooo Agus banci .. woooi apa kabar? hahahah gila udah lama banget ya nggak pernah ketemu!"

Yak, saya cuma bisa senyum.

Aku sekarang ndak peduli orang ngatain aku apa … Agus banci kek! waria kek! Ndak peduli.

Tapi ketika itu diucapkan oleh kawan jaman SD. Rasa sakitnya masih sama seperti saat aku masih SD dulu.

Dulu, aku sering pulang ke rumah selepas sekolah dengan menahan tangis.

Ibuku tempat mengadu.

"Aku kenapa sih dipanggil banci? aku memang begini? aku biasa-biasa aja kok. Tapi kenapa mereka manggil aku banci cuma karena aku ndak sepaham sama mereka?"

Ibuku cuma berkata,"Mereka cuma iri sama kamu!"

"Aku nggak mau mereka iri. Aku ini kan biasa saja!"

"Kamu istimewa. Kamu punya yang tak mereka miliki. Kamu istimewa!"

"Aku istimewanya dimana?"

"Kamu cerdas. Anak-anakku nggak ada yang bodoh! Kamu perencana yang baik, dan Aan pelaksana yang baik dari semua yang engkau rencanakan! Kalian sempurna! Makanya kalian bersaudara!"

"Aku mau mereka berhenti memanggil aku banci!"

"Betul kamu mau begitu? Baiklah, mulai besok, kalau mereka melecehkanmu lagi, LAWAN! JANGAN PULANG HANYA MENANGIS!"

"Berantem maksudnya Ma?"

"Iya, lawan! Kalau mereka menghinamu, bilang baik-baik kalau yang mereka lakukan salah dan itu membuatmu sakit hati. Kalau ucapan tidak bermakna, HANTAM mereka!"

"Tapi badan mereka lebih besar dariku"

"Kamu mungkin akan kalah. Kamu mungkin akan dihajar sama mereka. Tapi pilih: kamu pulang dengan rasa tidak berdaya atau kamu pulang dengan rasa bahwa kamu sudah membela apa yang kamu yakini benar?"

"Satu lagi Gus, isi otakmu jauh lebih bermutu dari mereka. JANGAN BIARKAN MEREKA MENGUNGGULIMU! KAMU HARUS JADI NOMOR SATU DI ATAS MEREKA!"

Dan itu yang aku lakukan.

Hampir setiap hari, aku pulang dengan muka bengep memar. Atau tangan yang lecet. Atau bahkan kombinasi dari keduanya ditambah dengan kancing baju yang lepas akibat berkelahi dengan mereka yang memanggilku banci.

Aku selalu kalah.

Ya iyalah. Lha wong biasanya melawan lebih dari dua hahahahah

Hampir setiap hari aku dipanggil guru BP.

Katanya Agus sudah berubah jadi anak bengal.

Begitu yang dibilang guruku pada Mama.

Mama hanya tersenyum. Tapi tak pernah meminta maaf atas kelakuanku.

Aku juga ndak pernah disuruh meminta maaf.

Pertarungan fisik kuimbangi dengan persaingan di mata pelajaran.

Tak pernah kumaafkan diriku kalau diantara mereka yang selalu melecehkan itu mengungguliku.

No, I am not gonna let them. To-the-HELL-to-the-NO hahahaha

Masa SD kulalui dengan dagu terangkat.

Aku melawan bullying dengan caraku sendiri.

Dengan cara yang diajarkan Mama.

Masa SMP dilalui dengan cara yang sama.

Tapi yang neraka sesungguhnya adalah masa SMA.

Pernah, selepas jam sekolah. Aku dihadang dijalan.

Diseretnya aku ke kamar mandi kecil dibelakang mushala sekolah.

Satu lawan berenam. Bisa apa aku?

Dilucuti celanaku dan celana dalam.

Diikatnya tangan dan kakiku.

Aku hanya memakai baju sekolah.

Dan, kamar mandi kemudian dikunci.

Aku ditemukan penjaga sekolah jam 7 malam.

Dipikirnya kamar mandi belakang mushala berhantu. Dan hantunya sedang marah.

Padahal itu aku menendang-nendang pintu kamar mandi.

Sampai akhirnya sumpal mulut terlepas dan aku bisa berteriak.

Setelah kejadian itu, aku takut berangkat sekolah.

Tapi Mamaku bilang, "Ingat Gus, LAWAN! jangan biarkan mereka menang!"

Dan setiap berangkat ke sekolah, aku seperti agus kecil jaman SD yang berangkat ke sekolah dengan tantangan yang sama setiap hari.

Aku memilih untuk melawan.

Aku memilih untuk mengalahkan ketakutanku sendiri.

Aku dikuatkan oleh Mama.

Dengan segala pola asuhnya yang spartan dan keras dulu.

Mom, i thank you. With all my heart.

Happy mother's day.

I love you. With all my heart.




Sunday, April 08, 2012

Ibuku Harimau .. Hauuuum!


Senin pagi.

Ritual pagi bangun tidur sekarang sudah berubah. Biasanya langsung minum segelas air putih. Sekarang? cek bebi bebi cek linimasa kicauan burung kecil biru :)

Dan salah satu kawan yang kuikuti kicauannya pagi ini adalah @rebornsin

Kicauannya pagi ini:
"Pun begitu dengan orang tua yang ngebandingin anak mereka dengan anak orang lain yang lebih sukses... itu gak etis sama sekali lho"

Aku jadi inget masa kecilku dulu.

Ibuku dulu begitu.

Suka mbanding-mbandingin aku dengan kawan sebaya.

Suka maksa.

Suka meneror.

Galak luar biasa.

Serem.

Hahahahaha ...

Bisa jadi celetukan @rebornsin ini sebenarnya ndak nyambung dengan yang kuceritakan nanti. Tapi, pemicu kenangan itu bisa macam-macam.

Tulisan.

Ucapan.

Apapun.

Bahkan yang tadinya tidak diniatkan untuk memiliki konteks yang berhubungan.

Beberapa waktu lalu, karena tulisan ini:


Akhirnya aku membeli buku karangan Amy Chua judulnya "The Hymn of the Tiger Mom"

Buku ini bercerita bagaimana pola asuh yang spartan sungguh. Jauh dari teori bahwa mendidik anak harus dengan cara yang 'halus', tidak mengkritik, dengan tutur bahasa yang halus, memotivasi, membuat anak harus merasa nyaman dengan dirinya sendiri.

Oh NO... sungguh jauh dari itu.

Dan cara Ibu saya mendidik dulu pun, persis beneur cyiin! hahahahah

Aku jadi ingat beberapa nukilan ucapan Ibuku dulu:

"Aku heran, Iwan kok bisa lebih jago matematika dari kamu... padahal belajarnya sama, bukunya sama, gurunya sama sekolahnya sama, tapi kenapa dia bisa lebih hebat?"

"Karena Iwan lebih jago Ma..."

"Nggak, itu karena kamu terlalu MALAS!"

"Tapi aku belajar tiap hari kok... Iwan memang lebih pintar Ma daripada aku!"

"Nggak... kamu cuma MALAS!"

Duileeee...

Dan, sesi spartan menyiksa dimulai. Setiap malam, Ibuku siap dengan penggaris mika disebelahku yang belajar keras mencongak perkalian, pembagian, pengurangan. Kalau jawaban ndak keluar dari mulutku kurang dari lima detik. Hyuuuk buku-buku jariku sukses ditampar penggaris mika.

Setiap malam aku menangis. Setiap malam tersiksa.

Sampai pada satu titik, setiap jawaban sedemikian otomatis keluar dari mulutku tanpa perlu berpikir panjang. Dan jawaban itu BENAR!

"Tuh, bener kan? kamu cuma MALAS... bukan nggak bisa!"

..................................................

"Kamu kenapa pulang nangis?"

"Mainanku diambil Anjari dan teman-teman badungnya ... aku dikatain banci Ma!"

"Anjari dimana?"

"Masih di lapangan"

"Ayo kita sekarang kesana!"

Yes! Anjari bakal dihajar Ibuku! -joged2

"Itu yang namanya Anjari?"

"Iya Ma ..."

"Nah, sekarang, KAMU SAMPERIN MEREKA, AMBIL MAINAN KAMU, BERANTEM! KAMU NGGAK BOLEH PULANG SEBELUM KAMU LAWAN MEREKA YANG NGATAIN KAMU BANCI! MAMA NUNGGU DISINI!"

Buseeet!

Ya, saya sukses pulang kerumah dengan baju sobek, mulut sobek, mata bengep ditonjok, tangan dan kaki lecet-lecet!

"Lain kali, AWAS KALO PULANG CUMA NANGIS! LAWAN!"

...................................................

"Ini lomba nyanyi pertamaku Ma, aku deg-degan!"

"Kamu bisa! KAMU HARUS MENANG!"

"Tapi..."

"Nggak ada tapi-tapi, kamu harus menang karena kamu memang BISA!"

OK, bukannya ditenangkan malah bikin lebih nervous ajijah nih emak ike cyin.

Dan Ibuku pergi ke Pasar Anyar membeli bahan untuk dibuat jas manggung.

Dijahitnya sendiri semalaman. Dengan payet berbentuk burung garuda. Aku melihatnya dengan tekun.

"Mati aku! kalo sampe nggak menang.... waduh!"

Dan benar saja

"Nih, pake! Mama sudah berusaha keras membuatmu tampil ngganteng... KAMU HARUS MENANG karena Mama tau kamu pantas untuk menang!"

Aku naik panggung dengan badan panas dingin luar biasa.

Dan MENANG!

"Tuh kan, menang... ndak usah senang berlebihan... itu wajar!"

Duileee .. dipuji aja kagak hahahahahah

..........................................

Aku ingat pelajaran kali pertama berenang

Kolam renang Milakancana, Bogor.

Kedalaman 1 m.

Aku, Ibu, dan Bapak berdiri di sisi kolam renang.

Tiba-tiba, Bapak mengangkatku dengan ringan seperti ranting kering dan diceburkannya makhluk kecil item manis ini ke tengah kolam.

Aku megap-megap.

Air kolam terminum.

Aku berteriak tolong.

Mereka diam saja.

Aku mau mati.

Mereka diam saja.

Semua anggota tubuh bergerak.

Aku nggak boleh mati.

Dan, akhirnya mengambang. Hidup. Puji Tuhan :)))

"Mama nggak tolongin kamu, karena Mama tau kamu bakal bisa ngambang kok...."

Iyeeee ... ngambang ... untung bukan ngambang karena metong ya bo'

..............................................

Gong dari ancaman Ibu waktu kecil adalah:

"Sini ... Kamu sama Aan (adikku) ... gini ya, Mama udah susah payah membesarkan kalian... cari uang susah. Jadi, kalau kamu sampe nggak naik kelas... Maaf, kalian kukirim ke PANTI ASUHAN aja ya. Berarti Mama gagal mendidik kalian"

Bergidik nggak sih anak kecil digituin.

................................................

But, come to think of it...

Aku sama adikku ndak pernah ada rasa dendam tuh. Malah bersyukur sekarang. Karena 'kekejaman' Ibuku ini sukses membikin kami anak-anaknya tahan banting.

Hidup di luar sana jauh lebih kejam.

Kami diajar untuk tidak terlalu gampang mengasihani diri sendiri.

Kami belajar tangguh.

Ibuku harimau.

Ibumu?